Senin, 02 Juni 2014
Menjemput Kebaikan
Sekelumit dalam jenuh
Peluh
Acuh
Angkuh
Usah bertahan dalam diam
Mematung, berpaku menunggu
Bila rasanya kebaikan belum menghampirimu
Maka datangi,
Jemputlah
Kemudian hantar dan tebarkan ia ke segala penjuru
Senin, 28 April 2014
Pembangun Basis
Periode, fase, tahapan, dan gelombang ke berapa pun
Ia tetap beramal dalam diam
Bukan seminggu, bulan, atau kurun masa tertentu
penjagaannya tak lekang oleh waktu
Ingat rasmul bayannya?
tilawah, ketawadhu'an, kicauan kesabaran
Nasihat, kafaah syar'i yang faqih
Mengisi bukan bermodal buletin atau majalah
Ia membina, membangun peradaban
Membimbing untuk mengerti,
Tak sekedar proyeksi
Kepada pembangun basis
Saat washilah ini mulai dititi hingga kini dan nanti
Sampai kapan pun
Betapa banyak harap ditujukan
Pada keistiqomahan kalian
Untuk tangan-tangan perkasa
Untuk hati yang luar biasa
Untuk azzam yang tetap membara
Agar, akan tetap ada nantinya ksatria yang serupa
Jika semua pun memilih
terjun dalam kancah-kancah terdepan
Tetaplah menjaga di sana
Menasihati diri yang banyak lupa
Mengingatkan, agar menjadi pembeda
Agar kita tetap berbeda
Lalu
Ajarkan kami,
Bagaimana menjaga saat dipercaya
Bagaimana bercita seharusnya
Bagaimana perjuangan sesungguhnya
Bagaimana agar
Tiap tetesan air mata, bukan karena lemah
Bukan tersebab lemah
Ia tetap beramal dalam diam
Bukan seminggu, bulan, atau kurun masa tertentu
penjagaannya tak lekang oleh waktu
Ingat rasmul bayannya?
tilawah, ketawadhu'an, kicauan kesabaran
Nasihat, kafaah syar'i yang faqih
Mengisi bukan bermodal buletin atau majalah
Ia membina, membangun peradaban
Membimbing untuk mengerti,
Tak sekedar proyeksi
Kepada pembangun basis
Saat washilah ini mulai dititi hingga kini dan nanti
Sampai kapan pun
Betapa banyak harap ditujukan
Pada keistiqomahan kalian
Untuk tangan-tangan perkasa
Untuk hati yang luar biasa
Untuk azzam yang tetap membara
Agar, akan tetap ada nantinya ksatria yang serupa
Jika semua pun memilih
terjun dalam kancah-kancah terdepan
Tetaplah menjaga di sana
Menasihati diri yang banyak lupa
Mengingatkan, agar menjadi pembeda
Agar kita tetap berbeda
Lalu
Ajarkan kami,
Bagaimana menjaga saat dipercaya
Bagaimana bercita seharusnya
Bagaimana perjuangan sesungguhnya
Bagaimana agar
Tiap tetesan air mata, bukan karena lemah
Bukan tersebab lemah
Senin, 30 Desember 2013
Beranjak Senja
Kalimat akhir pada cerita itu adalah
“Wajahnya berseri dengan senyuman.”. Tentang cerita beberapa pekan lalu, yang
baru pertama kali kudengar. Begitu haru menyimaknya, jujur menyelinap rasa
bangga dengan sepotong kisah itu. Bangga karena ditakdirkan memiliki nasab yang
sama dengan sosok yang diceritakan. Tepatnya mungkin merasa beruntung.
Nenek yang tiba-tiba menceritakan,
tentang saudara perempuannya. Ia punya banyak kelebihan dan menjadi yang paling
tawadhu dalam keluarga. Masa kecilnya yang pekerja keras, penyabar dan tak
kenal mengeluh dengan kehidupan di pelosok (Dusun) yang serba sulit. Ia juga
begitu ikhlas, saat nenek ‘melangkahinya’ untuk terlebih dahulu menikah, dengan
kondisi dahulu yang pemaklumannya tidak seperti sekarang. Selang 5-6 tahun
setelah itu, barulah ia pun menyusul. Kekaguman pada sosok yang ingin sekali
kulihat wajahnya ini semakin bertambah, saat nenek memberitahukan tentang tutup
usianya. Ia meninggal saat melahirkan anak kedua. Dengan usia kandungan yang
belum genap, saat-saat kritis itu pun masih sempat ia lewati dengan menggendong
anak pertama yang kala itu menangis. Bisa dibayangkan. Sampai akhirnya, ia
menemui husnul khotimah. Bersama satu nyawa lagi yang masih dalam kandungan.
Sepotong tulisan ini tak akan bisa
mewakili seutuhnya tentang segala kebaikannya. Ia meninggal dengan syahid, kondisi
akhir yang selalu menjadi do’a setiap muslim. Harus kutuliskan kembali betapa
aku merasa beruntung menjadi salah satu ‘cucunya’. Menjadi bagian dari
keluarganya, walau tak sempat menatap wajahnya atau setidaknya melihat dirinya
dalam foto. Kisah hampir setengah abad yang lalu ini kemudian menjadi
inspirasi. Bahwa hakikatnya, akhir hidup itu sebanding dengan bagaimana proses
kita melaluinya. Memulai, menjalani, lalu mengakhiri. Dan mungkin yang menjadi
esensi adalah sejauh mana kesiapan kemudian mempersiapkannya.
Malu sekali jika mengingat masa-masa
di mana saat bincang ihwal kematian, yang ada bukan menghayatinya dengan penuh
keinsyafan malah biasa saja kadang tertawa riang seolah tak mengacuhkannya. Tema
yang sangat tak popular. Seolah jauh dari maut, bahkan tak sadar jika setiap
jiwa akan merasainya.
Begitu
pun di setiap waktu, kadang timbul keengganan untuk sekadar mengingat kepastian
itu karena kecintaan terhadap dunia yang kian hari kian bertambah. Memenuhi
relung hati. Karena tanpa meminta persetujuan pun ternyata kesibukan dunia
memang menyita waktu-waktu kita. Seringnya membuat lupa. Mengutip syair
edcoustic “Pagi, siang, malam dunia yang
kutuju.”.
Banyak kesaksian dari orang-orang
terdekat seputar kematian. Tentang kondisi mereka yang hampir dimangsa binatang
buas, nyaris tertabrak mobil, hampir tenggelam, dan sampaian lain yang membuat
mereka kemudian tersadar. Mungkin kita pernah atau nanti juga mengalami hal
serupa. Dengan itu Allah menginginkan agar kita faham antara fana dan kehidupan
kekal punya batas yang amat dekat. Sebegitu dekatnya dengan keseharian yang
selalu menemani.
Kematian akan menghampiri siapa
saja. Tak kenal usia, status sosial, atau gelar keduniawian yang tak kan
mendatangkan maslahat nanti. Kurang lebih itulah yang ditulis almarhumah
Ustadzah Yoyoh Yusroh. Segalanya mesti dipersiapkan, terlebih untuk hal yang
pasti ini, walau tetap akan menjadi rahasia kapan tiba saatnya. Bukan sekadar
untuk ditakuti sebab ketidakberdayaan kita. Karena hidup bukan tentang lama,
tapi bagaimana menggunakannya. Semoga kita selalu mengharapkan, memunajatkan,
merencanakan husnul khotimah. Bi izdnillah…
“Hari telah beranjak
senja. Adakah usia kita juga sama? Sedang merayap senja.. dan kita tidak pernah
tahu batas usia kita?”
(Moh. Faudzhil Adhim)
Rabu, 20 November 2013
Peran (an)
Menyampaikan
sesuatu yang sifatnya teori ternyata kadang
kala membuat bosan. Dalam kelas, diam. Gambarannya tak jauh-jauh
dari satu orang menjelaskan kemudian
yang lain mendengar. Syukur sekali semuanya mau mendengar, terkadang yang lain
mengantuk lalu tertidur, ada yang bicara pada diri sendiri dan tak lama
kemudian butuh lawan bicara lalu mengajak temannya mengobrol. Tapi yang
terpenting selalu masih ada saja mereka yang membuat bersemangat masuk kelas.
Yang matanya berbinar-binar saat sedang dijelaskan, yang terbukti sekali
menyimak dengan seksama lewat pertanyaan-pertanyaan kritisnya, yang mengangguk
antusias pertanda mulai memahami, yang tak berkedip as a sign mereka memperhatikan (meski hanya 1,2 saja), yang …, dan
yang lain-lain. Terlepas dari itu semua, variasi respon yang mereka tunjukkan
selalu memberi warna.
Pun saat kelas cerpen, yang KD nya mengharuskan
terlebih dahulu mereka faham tentang konsep, dan itu pun sebuah teori. Siap-siap
lagi menerima berbagai respon (ekspresi kejumudan).
Wajar saja sebenarnya, karena yang dikedepankan selalu metode konvensional,
yang itu-itu saja. Sedang mereka butuh suasana berbeda, yang bisa mengakomodir
varian potensi tersembunyi yang dimilki dalam tiap-tiap pribadi..
Saat menjelaskan terhenti pada unsur intrinsik
cerpen karena ada yang bertanya perihal tokoh,penokohan dan watak tokoh.
“Kalau
tokoh berwatak baik disebut protagonist, tokoh berwatak tak baik disebut
antagonis, tokoh figuran yang netral sebutannya tritagonis, lalu bagaimana
dengan tokoh yang awalnya jelek tapi pada akhir cerita ia berubah menjadi
baik?”
Pertanyaan
yang bagus dan ternyata ia jubir untuk teman-temannya.
Seketika
terpikir tokoh insyaf tapi tak ada kategori itu, kemudian kujawab, “Kategorinya
protagonis”. Fokusnya pada akhir cerita dan sifat tokoh yang mau mengakui kesalahan.
Setelah itu tak muncul pertanyaan lagi.
Yang agak rumit bagaimana kalau
pertanyaannya sedikit diubah. Entahlah apakah terlintas dalam pikir mereka.
Bagaimana andai tokoh protagonist yang selalu berperilaku baik, namun di penghujung
ia melakukan kesalahan dan cerita pun berakhir. Apa sebutan untuk tokoh ini?
Lantaskah disebut antagonis karena berfokus pada kesalahannya di akhir cerita?
Ya,
dialah antagonis. Karena dalam cerpen begitu kecil sekup yang bisa kita amati.
Cukup soroti alur cerita yang habis sekali baca. Lalu jawabnya, ia antagonis.
Tepat dan tak melesat.
Akan tetapi itu dalam cerpen. Semua
penjelasan ringkas itu hanya pantas dan berlaku dalam cerpen. Tak sama dengan
dunia nyata yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan keping mozaik. Kemudian itu
bisa kita hubungkan dan rangkai agar menjadi sesuatu yang utuh. Tak serupa
dengan cerpen yang tak pernah bersambung. Apalagi jika pada bahasan analisis watak tokoh. Tak adil mewacanakannya.
Lalu jika dalam perjalanan yang
pemainnya adalah Aku, Dia, Kamu, mereka.. Kita bersama. Aku nyaris tak pernah
salah. Aku serupa tokoh protagonist sejati dalam cerpen. Sedang yang lain, tak
tetap. Yang lain manusiawi sekali. Kadang pernah khilaf, lewat tatap sinis,
lisan yang tajam, atau perilaku yang kurang menyenangkan. Dan aku, aku tak
pernah menampakkan itu. Walau tak dipungkiri prasangka hati sering datang
bertubi-tubi. Tapi tetap saja bagi yang lain akulah protagonist dalam perjalanan ini, keyakinanku yang sangat
mengatakan itu.
Selain aku di sini, juga ada Kau,
Dia, dan Mereka. Cukup membahas aku, yang sudah begitu tampak protagonisnya. Tentang
Kau atau Dia atau mereka. Tak peduli siapapun itu, kalian bukan protagonist
sejati. Kalian hanya insan biasa, yang sering kujumpai khilafnya. Entah Kau,
Dia, atau Mereka. Sama saja kupikir. Walaupun kita memulai perjalanan ini
dengan visi yang sama, uraian target terencana, keyakinan membaja, melewati suka
dan duka bersama, kita melandasinya dengan kepercayaan penuh, Tapi, jika di
tengah kayuh kita kemudian kalian melakukan sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan
dan kuanggap itu kesalahan. Maafkan, aku anggap kalian salah. Kalian ternyata tokoh antagonis dalam
cerpen. Tak perlu perhitungan dan timbang lain.
Aku lalu melupakan peranan besar yang
telah kalian lakukan dengan ikhlas, yang tak bisa lagi dibalas. Saat yang lain
meninggalkan, nyatanya kalian tetap tegar berjuang. Tapi, Cara pandang itu
seketika berubah karena ketidakpercayaanku atas kelakuan yang kalian buat itu.
Aku yang protagonist ini, tak perlu pusing-pusing mencari alasan mengapa hal
itu dilakukan. Karena bagiku, sekaliber kalian tak perlu ditolerir lagi, tak
butuh. Aku juga tak usah introspeksi diri, toh aku protagonist. Tak pernah
dikritik, selalu didengarkan, pembawa solusi, dan lain-lain. Tak ada yang perlu
dikoreksi kan.
Maka dengan kesalahan kalian yang
tak bisa diukur besar atau kecilnya, menimbulkan kekecewaan yang sangat
membekas. Entahlah, walau ada suara bening mengatakan:
“Jika
mereka tertekan dan tak bisa mengungkap sesuatu padamu, maka kau tak benar”
“Andai
sikapmu menjadi pembatas mereka menyampaikann kebenaran, kau salah”
“Salah
jika menyimpulkan dan tak mencari kebenaran”
“Apalagi
merasa selalu benar, itu jelas kesalahan besar”
Pada akhir perjalanan nanti semua
ingin menjadi protagonist. Menjadi baik dan selalu melakukan kebaikan. Jangan tanya
sampai kapan aku mengecap antagonist pada kalian? Atas khilaf kalian. Aku si
protagonist ini pun tak tahu menjawabnya. Mungkin, saat yang Maha mencipta
menyadarkan alangkah berkah andai menjalani hidup dengan penuh kesadaran..
Sampai Ia menerangkan kebenaran. Bahwa ternyata mungkin aku yang antagonist. Mungkin,
entahlah..
Perjalanan
antara Aku, Kau, Dia, Mereka. Andai kalian pikir ini perlu jeda? Baiklah.
Itu
saja…
***
Sabtu, 09 November 2013
Udzunuw Waa'iyah
Pernah
berkesempatan ikut dalam majelis ilmu yang memfasilitasi belajar tafsir qur’an
secara muttawatir. Pada saat itu surah yang dibahas adalah surah Al-Haqqah.
Surah ke ke-69, terdapat pada juz 29. Diturunkan sebelum hijrah dan terdiri
dari 52 ayat.
Melihat dari namanya kita tahu bahwa
surah Al-Haqqah secara umum tentunya menceritakan tentang gambaran hari kiamat.
Sama seperti kandungan surah Al-Qiyamah, Al-Insyiqaq, At-Takwir, Al-Waqi’ah,
Al-Ghasiyah, Al-Qori’ah, dan Al-Infithar yang secara bahasa adalah nama atau ragam
kata yang artinya adalah hari kiamat. Pada surat-surat tersebut Allah
menceritakan bagaimana gambaran hari akhir nantinya dan kesudahan keberadaan
manusia sesuai porsi amaliyahnya selama di dunia. Namun ada satu ayat yang
memberi ibroh berbeda dalam penyampaian ustad kala itu. Saat membahas tafsir
ayat ke-12.
Terjemahnya “Agar kami jadikan (peristiwa itu)
sebagai peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mendengar”.
Lalu diceritakan, saat Rasululullah Muhammad SAW mendapati wahyu ini, beliau
dengan segera mendo’akan sepupu tercinta Ali Bin Abi Thalib agar Allah
menggolongkannya sebagai hamba yang memilki telinga yang benar-benar mendengar
(Udzunuw Waa’iyah). Dan menurut ahli tafsir, perantara do’a Rasul itu
menjadikan Ali Radhiallahu ‘anhu sebagai sahabat yang begitu peka
pendengarannya dan tak lupa sedikit pun tiap perkataan yang disampaikan
Rasulullah padanya.
Alhasil pada kesempatan itu, seluruh
ummahat yang mengikuti kajian meminta ustadz menuliskan ulang do’a Rasul
teruntuk Ali. Terlihat mereka begitu semangat. Sekedar menebak mungkin do’a
tersebut akan ditujukan pada jundi-jundi kecil mereka selain tentunya
mengharapkan hal yang sama terhadap diri. Pada harapan besar teruntuk buah
hatinya, agar seperti Ali r.a. yang dianugrah udzunuw waa’iyah.
Kemudian melihat antusias itu yang
terpikir adalah betapa sensitifnya Rasululullah. Teramat mulia lisannya. Tentang
do’a indah yang dilantunkan. Spesifik dan jarang terpikirkan. Dari beliau kita
belajar makna sebuah pinta, tidak abstrak melainkan yang dekat dan begitu
dibutuhkan. Perihal do’a yang hakikatnya dimunajatkan, bukan disimpan dalam
hati atau hanya jelmaan keinginaan.
Di tahun baru Hijriah ini yang
memasuki angka ke-1435, setelah memuhasabah diri kita tentu terbiasa membuat
resolusi hidup, capaian, targetan dalam kurun waktu yang kita batasi sendiri.
Terkadang terpikir lalu digoreskan agar kita tak lupa dan selalu mengiangkannya.
Tapi
mungkin sedikit pengingat adalah,
Setelah
terpikir dan terencana sempurna
Sudahkah
itu dimintakan kepada Allah secara santun lewat do’a indah
Rutinkah
semua disampaikan dalam tiap munajat pada-Nya?
Lalu
perkara keyakinan akan ijabah pinta kita
Semoga
tak menjadi yang lupa pada kekuatan do’a
Tergolong
udzunuw waa’iyah
berusaha
peka dalam segala hal
Bahkan
menjadi pribadi yang teramat peka dalam segala hal
Meminta
untuk sebaik-baik do’a
Bahkan mungkin teruslah selalu berdo'a. Hingga bukan hanya isi do'anya, tapi do'a itu sendiri yang menjadi hajat dan nikmatnya menghamba pada Allah. Moga Ia bimbing kita memahami kalam-Nya, ketika hari ini banyak kecenderungan membelenggu ayat dengan judul dan kerangka. (Salim A. Fillah)
Sabtu, 21 September 2013
Ro_Na
Goresan kali ini sekedar
mengumpulkan kepingan kecil yang terserak. Agar tak hilang tercampur sia. Rona
beberapa hari lalu terasa agak tak biasa. Saat dalam perjalanan tak sengaja
menangkapnya. Pada Ibu paruh baya, yang semenjak awal menatap matanya, tertaruh
rasa curiga. Curiga padanya yang menurutku begitu tak lazim disenyum ramah oleh
hampir tiap petugas angkutan kota hari itu. Curiga padanya saat ia dengan mudah
diberi keistimewaan tak typing (tanpa
biaya) saat bergabung naik angkutan dengan kami. kecurigaan itu bertambah saat
Ia ingin membeli saldo pada smart cardnya tapi petugas tak mengizinkan, malah memintanya
langsung transit tanpa typing (lagi). Kembali curiga padanya saat ia menyapa
dengan senyum ramah padaku. Dasar aku selalu curiga..
“Ada pecahan 50rb nak?” Kalimat
pertama yang kudengar lewat lisannya. Telah selesai kujawab, walau masih samar
setidaknya aku tahu kurang lebih siapa ibu ini.. Ialah wanita yang hafal jam
berapa keberangkatan awal dan kapan waktu-waktu bus yang kami tumpangi ini beroperasi.
Ia selalu berangkat dari rumah pagi-pagi sekali. Anyaman sangkek yang terpegang
erat ditangannya seolah menjadi saksi perjuangan ibu ini. Pulang-pergi, pagi-malam
hari, dari sana ke sini.
Dan ketika bus jurusan kami
menghampiri, sengaja kupilih duduk tepat di sampingnya. Entah, kali ini bukan
karena aku masih curiga. Seperti magnet saja, aku mengejar rona. Ibu itu pun
mulai bercerita perihal rutinitasnya. Kemudian tentang bumbu, bahan makanan,
resep memasak dan lain sebagainya. Dalam hati aku makin percaya keputusan yang
tepat jika ia telah memilih membuka warung nasi sebagai pencaharian utama. Walau
terkategori jauh jarak yang harus ditempuh ibu ini, tepatnya halte pemberhentian
ujung di perbatasan kota. Tapi dengan jelas guratan di wajahnya menegaskan itu tak
masalah. Dia juga menceritakan tentang sopir dan kondektur yang menjadi
langganan masakannya, yang kadang-kadang menghutang pulsa. Manusiawi, wajar
petugas bus ini banyak yang kenal dengannya.
Sambil tetap tersenyum, lisannya
begitu fasih melanjutkan cerita. Tentang shalat jamak-qoshor yang ‘terpaksa’
dilakukan karena sibuknya melayani pembeli. Karena tak sanggup menggaji pegawai
jadilah ia sendiri. Tersebab itu ia pun mengandalkan kejujuran pembeli saat
membayar makanan. Karena akan melelahkan sekali jika tiap meja harus diawasnya
satu persatu. Jalan mulai ramai kala itu, musik yang diputar berkolaborasi
dengan bunyi mesin mobil yang dipacu kecepatan tinggi membuat suara Ibu itu pun
jadi tak jelas. Dan aku mulai memberi respon monoton, tersenyum lalu mengangguk
antusias.
“Masih kuliah atau kerja?”,
pertanyaannya kali ini seakan menuntut giliran, meminta aku yang berbicara. Mungkin
karena ekspresiku yang begitu-begitu akhirnya ia balik bertanya. Demi merespon
ulang jawabanku, rona itu semakin terpancar. Bagaimana pengetahuan yang ia bagi
ihwal parenting. Nasihatnya seputar psikologi remaja. Tentang kesungguhan dan
kesabaran bekerja juga tak luput tersampai dari lisannya. Kontekstual sekali
ibu, seperti ahli. Bahkan mungkin kaulah sesungguhnya yang berilmu. Padahal hari-harimu
berkutat di bus dan warung nasi yang mesti selalu dijaga. Beberapa cerita perih
yang ia sampaikan di ujung pertemuan makin menjadikannya rona. Yang kutangkap
singkat tapi banyak menebar hikmah..
*******
Begitulah.
Kadang kita masih tak syukur diketengahkan pada pilihan yang begitu banyak,
sedang di luar sana mereka cenderung terbatas pilihan dalam memutuskan.
Beruntungnya
menjadi orang yang tak selalu bincang agama, tapi diri selalu mendapat tausiyah
darinya walau tak terlisan.
Dan
seputar rona. Tangkap dan maknai ia sedalam-dalamnya. Betapa penting. Merasakan
sendiri bagaimana langsung jatuh hati pada orang yang baru pertama kali
ditemui. Semoga keberkahan-Nya selalu mengiring, menjaga dan menemani.
Untuk
ia yang disebut rona
Selasa, 10 September 2013
Fan Firu!
Jika dalam tiap detik
adalah pilihan
Sebagai insan kita pun
harus senantiasa menyiapkan keputusan
Pilihlah untuk memilih
Pilihlah untuk terus
menetapkan
Walau berat, sulit
Meleset, tak tepat
bahkan salah sekalipun
Bukan hal luar biasa,
Karena
Putaran akan terus berjalan
Tiba nantinya, bertemu
masanya
Tersua dengan kondisi yang benar
Lewat pilihan kita
Maka pilihlah, teruslah
memilih!
Memilih bukan menerima
Mungkin, memilih untuk
menerima
Ada pilihan
mempertahankan
Putusan menolak pun
Punya hak terposisi
opsi
Pilihlah!
Dan pilihan hakikatnya
Mentafakkuri segala apa
yang ada
Mendekat pada yang
paling baik menurut-Nya
Tak terlewat, putus
kita berulang kali alpa
Sedang Ia, tahu
segala-galanya
Maka pilihan terbaik
adalah
Menyertakan Allah dalam
tiap putusan
Selalu mengedepankan-Nya
Juga
Sebelum meniti berjuta
pilihan
Tunjuklah saudara terpilih
untuk diri
Yang dengannya
Sedih jadi terurai
Bahagia bisa dibagi
Atau
Walau tak pernah
terkata
Segala cerita, jika
temanya adalah “kita”
Tak ada yang tak jadi
indah
*******
Kamis, 29 Agustus 2013
Embun di Pangkal Senja
Karena
tersebab untuk senandung yang tak lagi
Mungkin
hilang atau semestinya diganti
Bisa
jadi ia pergi
Entahlah,
tapi tak jelas jika didefinisi
Andai
boleh, tanyakan saja pada semua orang
Tanyakan
pada yang mendengarkan
Sungguh
tak sedap jika senandung itu masih tak terganti
Semestinya
ia diubah
Memang
harusnya ada yang menggubah
Liriknya
saja, tak perlu aransemennya
Agar
menjelma ia sebagai embun
Meski
di pangkal senja
Hadirnya
jadi mempesona
Memuat
sejuta makna
Menguatkan
komponen lainnya
Jadi
pembaharu untuk ditiru
Gegas
melecut energi baru
Mengharap
embun di pangkal senja
Bukan
hal yang tak biasa
Ia
sah dan boleh-boleh saja
Melodinya
nanti akan berharmoni
InsyaAllah
terharmoni
Dan
untuk senandung yanga tak lagi
Walau
nanti tak persis sama
Banyak
lagu yang masih bisa dicipta
Apakah
lirik, nada, penyanyi, komposer
Sungguh
bukan masalah
Tiap
kesungguhan akan mendapat penilaian
Tiap
langkah nanti memberi kesaksiannya
Ia
yang maha mengetahui setiap isi hati
Bahwa
sesungguhnya
Tak
ada yang terlewat
Juga
luput tercatat
Bahwa
kini mulailah masuk dalam diri
Sungguh
masih begitu banyak yang harus diberi peduli
Senin, 08 Juli 2013
Melankolis Ramadhan
Tinggal
hitungan jam dan lebih kurang 3 kali adzan fardhu lagi, kemudian kita
insyaAllah dijumpakan dengan Ramadhan. Bulan yang dikonstruksi hanya dengan 8
huruf tapi makna dan kandungan kebaikan di dalamnnya tak hingga tanpa batas. Saat
pertemuan dengannya kini begitu dekat setelah terasa sekali penantian akan
hadirnya, yang seluruh penduduk bumi dan langit begitu syahdu, bersuka cita
menyambutnya.
Sebenarnya secara fisik Ramadhan
adalah bulan yang sama dengan 11 bulan lain dalam tahun Hijriah. Seperti halnya
hari jumat yang memiliki kesamaan fisik
terhadap 6 hari lain dalam satu Minggu. Yang membedakan adalah pemaknaan
terhadapnya. Pemaknaan itu kemudian bisa disebabkan karena memang Allah lah
yang secara langsung memuliakan waktu itu dan atau ada histori (momentum mulia)
yang terdapat di dalamnya. Dan Ramadhan mencakup kedua alasan tersebut. Dengan jelasnya Allah
firmankan dalam Al-Qur’an berpuasa pada bulan ini adalah syarat seorang muslim
digelar derajat taqwa. Nama lain Ramadhan adalah Syahrul qur’an karena nuzulnya
pada bulan ini, tepat malam 17 Ramadhan. Sama halnya dengan 3 kitabullah,
Taurat, Zabur dan Injil. **
Dengan kesempurnaan design Allah
khusus pada bulan Ramdahan malu rasanya kalau meyambutnya ala kadar, sekedar euphoria
tanpa ma’nawiyah mendalam. Ia datang dengan kesempurnaan, mestinya disambut
dengan persiapan yang juga perfecto..
Satu kata pamungkas yang begitu identik dengan pribadi melankolis; ideal Ã
sempurna. Lebih tepatnya berupaya melakukan ibadah terbaik untuk meniti derajat
mulia. Menjadi begitu ‘idealis’ saat Ramadhan. Berusaha semelankolis mungkin;
pra, saat, dan pasca Ramadhan. Artinya untuk yang sama sekali bukan si
melankolis, kita akan berubah untuk menyesuaikan kondisi dengan Ramadhan yang
mulia. Mulai dari merapikan dan menyusun semua ‘anshitoh Ramadhan’ secara detil
dan terperinci, merunut capaian perhari, tiap malam memuhasabah diri, sampai
menghitung-hitung dan mengkomparasi amal apa yang lebih utama untuk kita
lakukan dalam tiap detiknya. Terkadang pribadi melankolis dijuluk orang yang
begitu lama berkecamuk dalam kompromi terhadap diri dan banyak sekali poin-poin
yang mesti dipikirkan. Itu umumnya, tapi berjumpa Ramadhan kita memang harus
banyak berpikir, bertafakkur, yang beruntung adalah ia yang paling ma’rifat
dengan Ramadhan. Menjalaninya berbekal ilmu.
Lekat sekali dengan cerita seorang
pedagang makanan di Pulau Jawa yang teramat cinta pada Ramadhan. Dalam kamusnya,
hanya ada 11 bulan untuk bekerja mencari ma’isyah. Khusus Ramadhan, tutup toko dan
fokus berkhusyuk dalam ibadah. Karyawannya tetap diberi tunjangan agar tak
kehilangan penghasilan. Pemikiran tingkat tinggi yang begitu percaya dengan
kuasa-Nya. Ada lagi kisah seorang ummahat yang sengaja tak disebut namanya. Ada
kebiasaan unik, khas. Ia sekeluarga sepakat bahwa tak ada waktu mencuci piring
selama Ramadhan. Mereka terbiasa membeli makanan siap saji, kalaupun memasak
itu sesekali dan memang terdesak. Tiap detik adalah ibadah dan ibadah. Bukan berarti
keluarga ini tak pandai memanajemen waktu. Ilmu dan perhitungan kalkulasi
ibadah lah yang membuat mereka berbeda.
Menjadi yang melankolis juga berarti
memikirkan segala urusan. Bukan hanya bagaimana kisah kita di bulan Ramadhan. Tapi
seperti apa kondisi ia, mereka, saudara-saudara kita dalam menyambutnya. Di
Indonesia, dari Sabang sampaii Marauke, terutama Aceh yang baru-baru ini diuji bencana.
Belahan bumi lain, saudara seiman di seluruh penjuru dunia. Semoga keberkahan
berlipat-lipat teruntuk mereka yang lebih dulu berjihad dibanding kita. Palestina,
Suriah, Mesir, Tunisia, saudara muslim di mana pun ia berada. Do’anya adalah
semoga makin dikuatkan, diberi ketancapan azzam, disegerakan pertolongan, insyaAllah akan ada berjuta
kisah indah, bahagia, berlimpah pahala, full barokah di Ramadhan kali ini untuk
mereka… Munajat kita adalah tak sekedar untuk kebaikan diri pribadi, tapi
selalu menyelipkan do’a special untuk mereka karena Allah begitu cepat
mengijabah do’a, terkhusus di bulan ini.. Kemudian tega sekali kita dengan
segala kemikmatan yang ada nantinya melewatkan Ramadhan dengan sia-sia. Jangan selalu
mau tertinggal, tertinggal jauh dari mereka yang selalu mulia dengan segala
keterbatasan
Berjumpa Ramadhan kita punya misi
yang sama, 30 hari mencari cinta. Merebut hati-Nya, mencari cinta-Nya, menjadi
yang paling dikasihi-Nya. Lewat cara yang berbeda-beda. Mari menginspirasi diri
sendiri agar tak kenal kata letih. Karena bulan ini hanya ada pembuktian cinta.
Berjurus melankolis, senyuman dan ibadah yang optimal..
Jumat, 07 Juni 2013
Permata Tarbiyah
Pernah mendengar
lagu ini, sebuah nasyid full inspirasi. Pun saat menggores tulisan ini, terus ku
putar-putar ulang mp3nya agar tak sedikitpun kehilangan pesan rasa yang
menggelora. Entahlah pada siapa tepatnya apresiasi ini dihadapkan? Untuk Izzatul
Islamkah? yang lewat suara mereka setiap pendengar terlecuti menjaga kontinuitas
dakwah? Atau aransemennya, atau pada sosok perempuan yang menjelma, muslimah
pilihan Allah yang digelar permata tarbiyah? Semua komponen dalam lagu ini
seakan berharmoni mencipta keselarasan. Yang menyirat makna bahwa ini bukan
senandung biasa, ini adalah lagu istimewa. Ceriteranya hadir menyuguh fakta tentang
seorang insan, tanpa dibumbuh rekayasa.
Menyelam tiap lirik pada lagu ini membuat diri menunduk
dan makin tertunduk. Betapa anggun dalam kesejukan tokoh yang dikisahkan. Walau
terpisah fana tapi gaung dakwahnya tetap mempesona. Ia lah yang menyemai jejak
langkah abadi dalam tiap diri.. Ia yang tangan kanan menggoyang buaian dan
tangan kirinya mengguncang dunia. Ia yang hidup di masa ini tapi semangat
juangnya menyerupai shahabiyah yang membersamai Rasulullah. Ia lah muslimah
yang meletakkan cinta pada Allah di atas segala-galanya. Ia benar potret
permata tarbiyah.
Teringat beberapa waktu yang lalu, dalam forum kajian
muslimah pernah ada yang berkata: “Bagaimana
kita ingin masuk syurga jika tak pernah tahu kisah hidup orang-orang yang Allah
jamin masuk syurga. Belajarlah dari tiap shahabiyah wanita penghulu syurga..
Jika ternyata itu pun masih sulit coba mengambil inspirasi dari muslimah yang
hidup sezaman dengan kita, ialah permata tarbiyah: Almh. Ustadzah Yoyoh Yusroh.”
Iya, terkadang aku pribadi sering berdalih. Menyuguh berbagai alasan susahnya mendekati
pencapaian shahabiyah karena berada pada zaman yang berbeda. Perjalan hidup
Ustadzah Yoyoh menyirat ketegasan, bahwa muslimah bukan yang mencari-cari udzur
melainkan harus memusnahkan udzur. Salah satunya, tak ada penghalang batasan
waktu untuk menjadi muslimah kesayangan-Nya, insyaAllah setiap kita pasti bisa
mencapainya. Beliau telah membuktikannya.
Sejujurnya, saat mendengar lagu ini, mengingatkan kembali
pada sebuah kerinduan. Rindu yang sempat tertahan. Rindu akan sosok permata
tarbiyah. Rindu pada potret muslimah yang mempesona dengan akhlaknya. Dulu,
tujuh tahun yang lalu. Tak kulupa perjumpaan dengan mereka yang sekarang
kusebut juga ‘permata tarbiyah’. Aku lebih dulu jatuh hati pada mereka. Menaruh
kekaguman dan belajar menetapkan standar diri sebagai muslimah. Pada seorang
Ummahat yang punya 3 anak, tak pernah terlambat menghadiri halaqoh bersama
jundi2nya, tampilannya pun selalu rapi dan wangi, ia tak pernah absen dalam
agenda-agenda dakwah. Tiap bersua yang kuharuskan adalah memberi senyum
termanis padanya yang kusebut istimewa. Kemudian aku juga merindukan seorang Mb
yang mengajar bagaimana mencintai Allah dengan sebenar-benar cinta. Kalimatnya
yang selalu teringat “Bahwa sebenarnya
mencintai Allah bukan hal yang mudah, kita belajar berproses mencintai-Nya.”
Bukan hanya perkataan lembutnya yang kudamba, tapi hadirnya. Aku selalu ingin
bertemu dengannya, menatap sinar di wajahnya kemudian kadang tak sengaja
mengamati kelopak matanya yang merah, selalu memerah. Seperti kisah sahabat
yang selalu menagis karena takut pada Allah digambarkan matanya seperti
terompah kusuh, hitam merah padam, begitu pun ia. Terlalu sering kuselip
namanya dalam munajat, sebagai washilah. Agar aku bisa sepertinya mencintai
Allah, terkadang jauh berharap melebihi dirinya.
Merekalah bagiku permata, yang sederhana tapi berbuat
luar biasa. Kusebut permata karena mereka memang bercahaya. Aku yang
merasakannya ketika bersama. Selalu memetik hikmah ketika bersua. Benar
berkumpullah dengan dia yang sholehah maka kau tahu bagaimana belajar menjadi
sholehah, kau juga terinspirasi lewat semangatnya untuk menjadi shalehah. Kau
akan selalu menggebu mencapai shalelah.. Kusebut mereka permata karena mereka
tersimpan, tak banyak yang mengenal. Akan terlihat bagi yang mengamati
lekat-lekat. Kusebut permata karena ketika rasa gundah gulana melanda cukup
dengan memvisualisasikan mereka saja menjadikan aku malu jika berlama-lama
terkungkung dalam rasa itu. Mereka permata, yang begitu berharga.
Seringnya terlalu rindu pada mereka. Walau tak dipungkiri
begitu banyak kujumpa permata setelahnya. Sampai saat ini, masih berada di
sekelilingku dan tak dapat kusebut mereka satu persatu. Iya, permata itu kini
begitu banyak Allah tebarkan. Cahayanya bertaburan. Membuat langkah semakin
mantap melewati jalan ini. Begitu besar anugrah yang Ia berikan. Pintaku adalah
agar nikmat perjumpaan dengan mereka tak hanya sebatas di dunia, tapi juga di
akhirat kelak dalam naungan-Nya. Persis seperti pesan terkahir yang ia titip dalam Lagu
Permata Tarbiyah, insyaAllah kita bertemu di syurga. Semoga dipertemukan Allah
di surga-Nya. Narob bun fil jannah.
Ya
Allah tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliyah mereka sehinga aku layak
bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka ditaman firdaus-Mu
***
Terkadang
dalam cerminan,
Setiap
orang mengutuk kegelapan tapi tak banyak yang berusaha menyalakan terang
Rutinnya
disibukkan pada berbagai tuntutan, nyatanya enggan terdepan dalam keteladanan
Jika
bertemu permata,
Seketika
kita berubah
Semangat
menjadi cahaya walau redup sekalipun
Bergairah
memberi qudwah meski begitu payah rasanya
Berteman
kebeningan qolbi, Istimror ilallah
Senin, 27 Mei 2013
Memoar
Biru
Jika melirik biru
Pasti kau tahu
Tentang kisahnya yang menyejarah
Anggunnya bak belantara
Layaknya aku
Takjub, terpikat,
terpesona, tersyukur
Dia si biru
Mengubah dari warna
abu-abu
Memberi cerah pada
keredupan
Madrasah sebuah makna perjuangan
Aku yang paling tahu tentangnya
Yang punya cita besar untuknya
Yang paling kesal jika ada yang
tega menyakitinya
Walau
Tak pernah semua tampak,
terekspresikan
Selalu terkunci dalam diam
Merapat pada kesunyian
Terpenjara dalam ruang harapan
Pernah ingin tertanya
Sekedar mendengar kau
bicara
Tapi tak usahlah
Lebih baik kau diam saja
Menahankan birumu
Tak kuat nantinya mendengar kesahmu
Tak mampu menghiburrmu
Terekam kurang dari sewindu lalu
Terkoar namamu
Mengharu biru
Meski pernah tak terlalu dulu
Ada yang perih menyayat kalbu
Tentangmu,
Begitu mengusikku,
Menyisa pedih berjuta hikmah
Saat warna lain yang bercerita
sedang biru hanya diam
Bukan pertanda kau hitam, padam
Untuk kesekian kalinya
Dalam diam tetapku
percaya
Walau bukan lagi aku
yang paling tahu
Walau terkalahku dengan
besar pengorbanan lain padamu
Walau mungkin kini aku
lebih acuh
Tenanglah, kau pasti
tersenyum lega
Cukup percaya saja
Banyak mata pena tajam
di sekelilingmu
Bertabur busur panah menjagamu
Mereka yang paling tahu
Paling mengerti
memperlakukanmu
Yang menyadarkan
Bukan cinta jika tanpa
amal
Sungguh, tak jadi heroik
dalam keterpakuan
Langganan:
Postingan (Atom)